Menghadapi Ulah Penjahat Cyber Yang Makin Mengganas Di Masa Wabah Covid-19

ALJabar News. Berbicara tentang cyber crime kita tidak asing lagi karena saat ini ancaman cyber crime di dunia bahkan di Indonesia merupakan tindak kejahatan di era masyarakat digital yang makin mencemaskan. Berkenaan dengan pembangunan teknologi, kemajuan dan perkembangan teknologi informasi melalui internet, peradaban manusia dihadapkan pada fenomena-fenomena baru yang mampu mengubah hampir setiap aspek kehidupan manusia, Perkembangan teknologi informasi telah menjadikan masyarakat lebih cenderung terjadi perubahan yang cepat di masyarakat.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa perkembangan dalam bidang teknologi Informasi sangat memberikan dampak terhadap kehidupan manusia, baik yang berdampak positif maupun yang berdampak negatif. Demikian halnya dengan perkembangan internet yang merupakan buah dan bagian dari perkembangan Teknologi Informasi. Dengan fasilitas ini sudah banyak hal yang dapat dilakukan manusia mulai berkomunikasi yang relatif murah dan tidak lagi dibatasi oleh ruang serta waktu sampai kegiatan bisnispun sudah mulai banyak dilakukan melalui internet. Pada sisi lain perkembangan internet juga dapat mengundang dan memberi ruang terhadap mereka yang memiliki kemampuan dan yang berniat jahat untuk melakukan tindak kriminal melalui internet.

Di Indonesia, cyber crime sesungguhnya bukan tindak kejahatan yang baru. Cyber crime ialah sebuah istilah yang menunjukkan pada ktivitas kejahatan dengan menggunakan komputer atau jaringan komputer sebagai alat, atau sebagai sasaran, serta, lokasi terjadinya kejahatan.

Secara umum yang dimaksud kejahatan komputer atau kejahatan di dunia cyber (cybercrime) adalah upaya memasuki atau menggunakan fasilitas komputer atau jaringan komputer tanpa ijin dan dengan melawan hukum dengan atau tanpa menyebabkan perubahan dan atau kerusakan pada fasilitas komputer yang dimasuki atau digunakan tersebut

Kejahatan dalam dunia maya (cybercrime) secara sederhana dapat diartikan sebagai jenis kejahatan yang dilakukan dengan mempergunakan media internet sebagai alat bantu. Jenis-jenis kejahatan dalam kategori cybercrime diantaranya :
1. Cyber-terorisme
2. Economic cyber crime
3. EFT (Electronic Funds Transfer) Crime
4. Cyber/Electronic Money Laundering;
5. Cyber-pornography : penyebarluasan obscene materials termasuk pornography, indecent exposure, dan child pornography
6. Cyber-harassment : pelecehan sexual melalui e-mail, websites, atau chats programs
7. Cyber-stalking : crimes of stalking melalui penggunaan komputer dan internet
8. Hacking : penggunaan programming abilities dengan maksud yang bertentangan dengan hokum
9. Carding (credit-card fraud)

Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (disingkat UU ITE) atau Undang-undang nomor 11 tahun 2008 adalah UU yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum. UU ini memiliki yurisdiksi yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.

Nampak jelas bahwa cybercrime dapat dilakukan dimana saja, kapan saja serta berdampak kemana saja, seakan-akan tanpa batas (bordeless). Keadaan ini mengakibatkan pelaku kejahatan, korban, tempat terjadinya perbuatan pidana (locus delicti) serta akibat yang ditimbulkannya dapat terjadi pada beberapa negara, disinilah salah satu aspek transnasional/internasional dari kejahatan ini.

Tinggal di rumah dan hanya mengandalkan komunikasi dan informasi secara online, memang membuat masyarakat rawan menjadi korban ulah hacker. Kalau berbicara idealnya, tentu tidak seharusnya dan tidaklah mudah masyarakat menjadi korban ulah penjahat siber. Tetapi, di Indonesia, jaminan dan upaya memberi perlindungan masyarakat agar tidak menjadi korban praktik penyalahgunaan penjahat siber sering kali tidak mudah.

DI balik derita masyarakat akibat meluasnya covid-19 ke berbagai negara di belahan dunia ini, ternyata muncul pihak-pihak yang berusaha mengail di air keruh. Alih-alih ikut terlibat dalam upaya penanganan virus korona, para hacker dan pelaku tindak kejahatan siber justru melihat perubahan pola kerja masyarakat yang kini terpaksa bekerja dari rumah (work from home) sebagai kesempatan emas untuk menjalankan aksi jahat mereka.

Sejumlah faktor yang menyebabkan para hacker dan penjahat siber mudah menjalankan aksinya ialah, pertama, ketika masyarakat yang tengah menghadapi kecemasan dan dilanda ketakutan yang berlebihan akibat pemberitaan tentang bahaya covid-19 yang terus menerus memborbardir dunia maya dan media sosial.

Pemberitaan tentang panic buying yang dilakukan masyarakat membeli masker, hand sanitizer, APD, dan bahkan makanan membuat masyarakat yang terpengaruh kemudian sibuk dan lengah tatkala mencari informasi di dunia maya. Banyak kasus membuktikan masyarakat menjadi korban penipuan praktik jahat pelaku cyber crime yang memanfaatkan momen ketika permintaan terhadap alat medis seperti masker dan hand sanitizer melonjak tajam. Masyarakat yang berusaha membeli masker atau hand sanitizer lewat situs-situs penjualan di dunia maya, tak jarang menjadi korban orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Sebagian masyarakat yang sudah terlanjur membeli barang via online dan telah mentransfer sejumlah uang, ternyata mendapatkan barang yang tidak diinginkan. Bahkan, barang yang mereka pesan sama sekali tidak pernah terkirim. Kedua, akibat ketidaktahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga kerahasiaan akun dan identitas pribadinya, sebagian masyarakat menjadi korban penipuan yang dilakukan penjahat siber. E-mail-email penipuan, SMS, pesan di media sosial yang meminta kode pemesanan barang, nomor kartu kredit, nomor PIN, dsb, tak jarang tanpa diverifi kasi lebih lanjut dijawab dengan polosnya. Padahal hal itu sangat berisiko.

Masyarakat yang hidup di era cashless society, sebagian bukannya sadar akan risiko dan bahaya melakukan transaksi online, tetapi sering justru terperangkap dalam iming-iming hadiah. Sikap sok kenal dan berbagai praktik penipuan lain dikembangkan penjahat siber. Apa pun situasinya, masyarakat seharusnya sadar dan waspada terhadap social engineering dan phishing yang biasanya dikembangkan penjahat siber untuk menipu mangsanya. Masyarakat yang tinggal atau bekerja di rumah, dan lebih banyak mengandalkan informasi dari sumber online saja, semisal e-mail dan chat, biasanya lebih berpotensi dimanfaatkan peretas untuk mencuri data dan informasi penting dengan metode phishing. Para penipu mempermainkan keretanan psikologi masyarakat dengan sesuatu yang terkesan mendesak (urgent).

Di Indonesia dan negara lain, laporan masyarakat yang menjadi korban praktik penipuan dan tindak kejahatan cyber tidak sekali-dua kali terjadi. Sepanjang covid-19 merebak dan telah membunuh ratusan ribu jiwa korban virus ganas itu di 209 negara, sepanjang itu pula intensitas terjadinya cyber crime makin meningkat. Masyarakat yang diterpa kekhawatiran dan kegelisahan, kerap menjadi sasaran empuk penjahat siber. Meningkatnya rasa ingin tahu dan meningkatnya intensitas masyarakat berburu informasi tentang covid-19 kerap kali dimanfaatkan para hacker jahat untuk melancarkan aksi mereka. Tidak sedikit masyarakat menjadi korban penipuan, dan ulah penjahat siber yang memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang bagaimana seharusnya menjaga identitas pribadi pengguna teknologi informasi. Identitas pribadi yang seharusnya hanya diketahui lembaga perbankan, tanpa sadar diberikan ke pihak asing yang tidak dikenal. Sehingga, rawan dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengakses kondisi keuangan mereka.

Penipuan yang dilakukan para pendompleng situs-situs perdagangan online merupakan salah satu bukti yang memperlihatkan bagaimana risiko yang mesti ditanggung masyarakat menghadapi ulah penjahat siber yang makin mengganas di masa wabah covid-19.

Penulis : Ade Nopiansyah

Ade Nopiansyah

Wartawan/ti Media Online aljabarnews.com telah Kompeten pada perusahaan Pers Harian dalam bidang UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Wartawan Media Online aljabarnews.com dalam bertugas dilengkapi dengan Kartu Tanda Anggota (KTA) dan Surat Tugas dan tercatat namanya dalam Box Redaksi. Apabila ada yang mengaku wartawan kami meskipun KTA dan surat tugas masih berlaku, sepanjang namanya tidak tercantum dalam Box Redaksi, maka dinyatakan tidak berlaku dan bukan Wartawan Media Online aljabarnews.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *