Dampak Covid-19 Terhadap Perekonomian di Indonesia

Aljabar News. Pada masa pandemi saat ini tidak hanya pada kesehatan masyarakat, namun juga berdampak pada kesejahteraan ekonomi negara hingga ekonomi masyarakat. Covid-19 melumpuhkan perekonomian negara dan masyarakat, terutama pekerja informal yang rentan berkurang pendapatannya hingga kehilangan mata pencarian karena sepi permintaan. Permasalahan yang dialami pelaku UMKM sangatlah beragam.

Dampak pandemi ini sangat merugikan pada ekonomi masyarakat, keadaan wabah pandemi COVID-19 ini sangat sulit mencari pekerjaan, banyak yang di PHK/ dirumahkan, timbulnya kejahatan, banyak kebutuhan ekonomi yang mengalami kenaikan harga dan menurunya aktifitas ekspor impor barang.

Pertama yaitu sulitnya mencari pekerjaan, masudnya disini banyak perusahaan yang beralasan tidak menerima karyawan karena kuota sudah penuh, ada juga yang beralasan didalam perusahaan tersebut semua karyawan sudah dirumahkan / bekerja di rumah dan ada juga yang sudah di PHK sehingga tidak mau menerima tambahan karyawan lagi.

Kedua, banyak karyawan yang sudah bekerja terpaksa harus di rumahkan tanpa digaji sampai batas yang belum diketahui, dan ada juga yang di PHK karena perusahaan tidak bisa memberiò gaji pada karyawan yang tidak bekerja selama hampir 3 bulan ini. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Masyarakat kehilangan mata pencarianya untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya, agar bisa tetap memenuhi kebutuhanya, masyarakat perlu diberikan bantuan sosial dari pemerintah seperti beberapa sembako dan BLT (Bantuan Langsung Tunai) untuk kebutuhan sehari hari.

Ketiga , Dampak COVID -19 pada perekonomian di indonesia salah satunya adalah Timbulnya kejahatan di beberapa daerah, seperti banyak pencurian di berbagai rumah –rumah yang dikarenakan banyak narapidana yang dilepaskan karena adanya sistem sosial distancing dan lock down.Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menyatakan sebanyak 5.556 narapidana telah dikeluarkan dan dibebaskan sebagai bagian dari upaya pencegahan penyebaran virus corona di lembaga pemasyarakatan (lapas). Yasonna menjelaskan pelepasan narapidana itu merujukmerujuk pada Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 10 Tahun 2020 dan Keputusan Menteri  Hukum dan HAM Nomor M.HH-19.PK/01.04.04 tentang Pengeluaran dan PembebasanNarapidana dan Anak Melalui Asimilasi dan Integrasi dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19.

Dan terakhir dari data lapangan yang peneliti peroleh adalah menurunya sistem ekspor dan impor barang , Misalnya, Indonesia tidak bisa membuat barang karena kompenannya
Berasal dari China. Pada saat yang sama, China juga sebagai pusat produksi di Asia meminta bahan baku dan bahan pembantu dari berbagai negara di Asia. China membutuhkan impor kelapa sawit, batubara dari Indonesia. Apabila China mengalami wabah, otomatis tidak adalagi permintaan barang tersebut ke Indonesia. Hal ini membuat harga kedua barang tersebut mengalami penurunan, karena tidak adanya ekspor ke China akibat penurunan permintaan. Permasalahan tersebut terjadi pada sektor pariwisata yang mengalami penurunan sangat drastis akibat pelarangan penerbangan sementara oleh Pemerintah Indonesia dari dan ke Tiongkok serta perdagangan ekspor dan impor Indonesia China terutama pada komoditasbuah-buahan dan hewan.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Eksportir Sayur dan Buah Indonesia (AESBI), Hasan Johnny Widjaja, sejak ada kabar tentang Virus Corona, para pembeli di China langsung menghentikan pembelian. Para eksportir buah yang paling ‘menangis’ adalah mereka yang melakukan penjualan atau pengiriman barang dengan skema CNF (Cost and Freight/CFR) atau pembayaran yang dilakukan setelah barang tiba di pelabuhan tujuan ekspor. Bahkan ada yang sudah mengirim barang di kapal, namun di tengahperjalanan terjadi pembatalan.

Penulis : Fitri Handayani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *