Beban Pikiran Nasib Mahasiswa Online Di Era Pandemi Covid -19

ALJabar News. Apakah dengan kuliah online ini sudah berjalan secara efektif? Tentu saja semuanya itu masih kalah efektifnya dengan pembelajaran secara tatap muka. Kuliah daring sangatlah membuat mahasiswa pusing. Setiap hari harus di depan laptop ataupun gadget. Belum lagi tugas-tugas yang sangat menumpuk dari dosen. Semuanya itu membuat para mahasiswa sibuk dan terbebani. Jaringan yang tidak stabil, kuota yang boros, transfer pemahaman ilmu yang kurang, dan juga deadline penugasan, dan tuntutan pekerjaan, itu semua merupakan keluhan para mahasiswa saat ini.

Kebijakan yang dibuat atas dasar desakan keadaan. Banyak yang berharap kepada kampus-kampus yang berdiri di negeri ini agar dapat menciptakan konsep yang lebih efektif lagi untuk kegiatan kuliah daring ini.

Dengan adanya pembelajaran daring tentunya akan ada banyak mahasiswa yang harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli kuota internet. Tidak semua mahasiswa memiliki akses WiFi di rumah atau di kos. Mahasiswa juga memiliki keterbatasan dalam mencari WiFi gratis karena situasi dan kondisi seperti ini masyarakat harus menerapkan physical distancing. Terlebih untuk mahasiswa yang pekerjaan orang tuanya tidak terkena dampak Covid-19, tentunya tidak begitu bermasalah. Namun bagi orang tua mahasiswa yang pekerjaannya terkena dampak dari Covid-19 ini akan sangat kesulitan dalam hal keuangan.

Banyak mahasiswa mulai mengeluhkan proses perkulihan dilakukan secara daring. Mulai adanya kebosanan dengan sistem ini, banyaknya tugas yang diberikan dosen, dan  adanya kerinduan untuk berjumpa dengan kawan-kawan serta ingin merasakan kuliah tatap muka yang menurut mereka sangat membantu dalam memahami ilmu secara efektif.

Seperti halnya salah seoarang mahasiswa perguruan tinggi swasta, ia mengeluhkan banyaknya tugas kampus, tuntutan pekerjaan terlebih sinyal handphone yang kurang stabil karena keberadaan rumahnya dipelosok kampung.

“Tugas kuliah yang numpuk, sinyal yang jelek dan tututan pekerjaan yang harus diselesaikan rasanya ingin teriak meluapkan isi hati, “ungkap DN saat dimihtai keterangannya, Senin 5 April 2021.

Lebih lanjut ia mengatakan, “Saya tidak perlu mengenakan baju yang rapi dan duduk tegak mendengarkan materi yang dosen berikan. Namun yang kurang menyenangkan yaitu terkadang dalam kemudahan belajar online terasa sulit dikarenakan susah mengakses e-learning yang disebabkan susahnya jaringan dan servernya yang down. Tugas juga terasa lebih banyak diberikan sehingga saya sedikit repot mengerjakannya,” bebernya.

Disamping itu ada sisi positivnya, Kegiatan kuliah daring memang dapat diakses dimana saja dan di waktu yang telah ditentukan bersama. Materi perkuliahan yang diberikan oleh dosen melalui kuliah daring juga dapat dipelajari kembali dengan mudah oleh mahasiswa di waktu yang lebih fleksibel. Baik dosen maupun mahasiswa juga dapat lebih menguasai teknologi informasi dan komunikasi di tengah era globalisasi yang menuntut manusia untuk hidup bersama teknologi. Mahasiswa juga dapat melakukan pembelajaran dengan lebih santai dengan caranya masing-masing saat mengikuti perkuliahan secara daring.

Terlepas dari curhatan para mahasiswa, dosen bahkan orang tua, banyak pemerhati pendidikan menyebutkan kuliah daring memang tidak efektif, selain membutuhkan biaya banyak bagi mahasiswa. Namun, di tengah pandemi Covid-19 yang menghentikan kuliah tatap muka sementara waktu, pil pahit ini harus ditelan bersama. Tak hanya bagi mahasiswa, dosen pun tidak punya banyak pilihan.

Penulis : Ade Nopiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *